1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikRusia

Ada Mobilisasi Militer, Banyak Warga Rusia Lari ke Kazakstan

Madiya Torebayeva
27 September 2022

Karena mobilisasi militer parsial, warga Rusia ramai-ramai meninggalkan negaranya ke segala arah. Antara lain ke negara tetangga Kazakstan. Apa yang mereka harapkan di negara Asia Tengah itu?

https://p.dw.com/p/4HOQB
Antrean di perbatasan Rusia ke Kazakstan
Antrean di penyeberangan perbatasan Rusia ke KazakstanFoto: DW

Di perbatasan Rusia ke Kazakstan ada antrean panjang sampai beberapa kilometer, terutama di persimpangan yang mengarah ke kota Petropavlovsk dan Uralsk. Khususnya kaum muda Rusia banyak yang lari ke Kazakstan sejak 21 September, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan "mobilisasi parsial" untuk memperkuat pasukan perang di Ukraina.

Di penyeberangan perbatasan Syrym ke arah Uralsk, bagian paling barat Kazakhstan, dua pria, mungkin berusia 40 dan 18 tahun, telah menunggu lama. Mereka senang akhirnya bisa melintasi perbatasan. Mereka akan pergi ke Uralsk untuk pertama kalinya. Dari sana mereka ingin melanjutkan perjalanan ke Eropa.

Banyak pelarian yang memiliki kerabat di Eropa, bahkan ada yang memiliki visa Schengen yang memungkinkan mereka masuk ke sebagian besar negara Eropa.

Igor terpaksa meninggalkan istri dan anaknya di kampung halaman
Igor terpaksa meninggalkan istri dan anaknya di kampung halamanFoto: DW

Mencari aman

Igor dari Samara adalah seorang programmer. Dia melintasi perbatasan ke Kazakhstan dengan berjalan kaki. Dia mengatakan terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di rumah. Dia mengantre selama dua belas jam untuk bisa masuk ke Kazakstan.

"Saya akan pergi ke Uralsk untuk melarikan diri dari apa yang mengancam saya di kampung halaman saya. Teman-teman saya sudah direkrut, saya belum. Saya tidak ingin bertperang, saya tidak ingin membunuh, dan saya tidak ingin dibunuh," kata Igor. Ketika ditanya apakah dia mendukung tindakan Kremlin terhadap Ukraina, Igor menolak berkomentar. Sekarang dia ingin bekerja dan memantau situasi di Rusia dari Uralsk. "Saya akan kembali jika situasinya berubah," katanya.

Sanija, seorang wanita muda dari Kazan, juga belum pernah ke Kazakstan. Dia berangkat dengan pacarnya. Mereka ingin menyusul kerabat dan teman mereka yang berangkat sehari lebih awal. Mereka beruntung, hanya menunggu tiga jam di perbatasan, sebelum diijinkan melintas batas negara.

"Kami ingin aman. Kami pergi karena ada mobilisasi. Begitu semuanya tenang, kami akan kembali, tetapi untuk saat ini kami akan tinggal di sini. Kami total tujuh orang, kami semua masih muda. Tapi kami tidak berbicara tentang politik Kremlin," kata Sanija.

Sanija lari bersama pacarnya ke Kazakstan
Sanija lari bersama pacarnya ke KazakstanFoto: DW

Terutama warga muda hengkang dari Rusia

Kebanyakan warga Rusia yang datang ke Kazakstan masih berusia muda. Beberapa dari mereka khawatir bahwa pemerintah Rusia dapat mengesahkan undang-undang, yang akan melegalkan tindakan untuk memburu orang-orang yang dipanggil untuk dinas militer tapi tidak muncul.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Kazakstan, sekitar 1,66 juta warga Rusia telah memasuki negara itu sejak Januari 2022 dan 1,64 juta telah pergi lagi ke negara lain. Ada sekitar 3.200 orang yang dideportasi karena pelanggaran undang-undang migrasi. Saat ini ada sekitar 20.000 warga Rusia di Kazakstan.

Otoritas Kazakstan memastikan bahwa semua orang asing terdaftar sepenuhnya saat masuk ke negara itu. Kementerian Luar Negeri Kazakstan mengatakan, warga negara asing tidak memiliki hak tinggal permanen. Karena Kazakstan, Rusia, Belarus, Armenia dan Kirgistan bergabung dalam perjanjian bebas pabean, warga dari negara-negara itu bebas masuk ke Kazakstan dan harus melapor ke polisi imigrasi dalam waktu 30 hari. Tetapi mereka tidak boleh tinggal lebih dari 90 hari di ngara Asie Tengah itu, terhitung sejak tanggal masuk.

hp/as