1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikRusia

Seruan Putin ‘Mobilisasi Parsial’ Berujung Demonstrasi Warga

Emily Sherwin (Moscow)
22 September 2022

Warga Rusia khawatir "mobilisasi parsial" militer adalah langkah pertama untuk membuat banyak pria bertarung dan gugur di Ukraina. Banyak yang mencoba melarikan diri hingga memprotes seruan Putin.

https://p.dw.com/p/4HB61
Presiden Rusia Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara kepada warganya di Moskow di tengah terjadinya kemunduran atas invasinya ke UkrainaFoto: Russian Presidential Press Service/AP Photo/picture alliance

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dia telah menandatangani dekrit tentang mobilisasi parsial yang akan dimulai pada hari Rabu (21/09).

Putin mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Rabu (21/09) bahwa tujuannya adalah untuk "membebaskan" wilayah Donbas Ukraina dan mengklaim warga di wilayah itu tidak ingin kembali ke apa yang disebutnya "yoke" Ukraina.

Presiden Rusia juga mengatakan bahwa dia "berbicara tentang mobilisasi parsial, yakni hanya warga negara yang kini berstatus cadangan yang akan dikenakan wajib militer, dan mereka yang bertugas di angkatan bersenjata yang memiliki spesialisasi militer tertentu serta pengalaman yang relevan."

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan ada 300.000 tentara cadangan yang akan dipanggil. Putin juga akan kembali membuat referensi terselubung tentang adanya potensi penggunaan senjata nuklir, jika situasinya terus memanas.

"Ketika integritas teritorial negara kami terancam, kami pasti akan menggunakan semua cara yang kami miliki untuk melindungi Rusia dan rakyat kami. Ini bukan gertakan," kata Putin.

Wilayah Barat disebut hanya bertujuan untuk "melemahkan, memecah belah, dan akhirnya menghancurkan negara kita," tambah Putin. Pidatonya disampaikan sehari setelah wilayah yang dikuasai Rusia di timur dan selatan Ukraina mengumumkan "referendum" untuk bergabung dengan Rusia.

Referendum, yang rencananya akan diadakan antara 23 dan 27 September di Provinsi Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia, mewakili sekitar 15% wilayah Ukraina, atau seukuran wilayah Hungaria.

Protes warga Rusia terhadap seruan putin untuk mobilisasi parsial militernya
Sementara beberapa warga di Rusia mencoba melarikan diri dari negara itu, lebih dari 1.000 orang ditangkap karena memprotes "mobilisasi parsial"Foto: Vyacheslav Prokofyev/TASS/dpa/picture alliance

Tergesa-gesa meninggalkan Rusia

Kritikus Kremlin percaya bahwa keputusan "mobilisasi parsial" tersebut benar memunculkan kepanikan warga Rusia.

"Berita utama hari ini adalah Rusia telah mengumumkan mobilisasi," jelas Sergei Krivenko, mantan anggota Dewan Kepresidenan Rusia untuk Hak Asasi Manusia kepada tim DW. Dia menjelaskan bahwa apa yang disebut Putin "parsial" saat ini, bisa berubah menjadi universal "saat ini juga."

Tampaknya banyak warga Rusia yang memiliki kesimpulan yang sama dengan Gudkov. Media lokal melaporkan bahwa penerbangan ke luar Rusia dalam beberapa hari ke depan ke beberapa negara yang tidak memerlukan visa, telah terjual habis. Harga tiket tujuan seperti Turki, Armenia, dan Azerbaijan, telah dilaporkan melonjak hingga setara dengan lebih dari €2.000 (Rp29 juta).

Outlet media oposisi Rusia, Meduza, menerbitkan sebuah artikel berjudul "Ke mana harus melarikan diri dari Rusia," yang menampilkan daftar beberapa negara dan persyaratan masuk ke negara tersebut. Anggota Uni Eropa seperti Latvia, Lituania, dan Estonia mengumumkan mereka tidak akan menawarkan perlindungan kepada warga Rusia yang melarikan diri dari mobilisasi Moskow. Larangan dari negara-negara Baltik, bagaimanapun tidak termasuk bagi para pembangkang atau pengungsi.

Papan informasi di Bandara Internasional Vnukovo, Moskow, Rusia.
Harga tiket penerbangan dari Rusia ke luar negeri telah meroket setelah Putin serukan mobilisasi parsialFoto: Vladimir Gerdo/TASS/dpa/picture alliance

Scholz: Langkah Putin adalah 'tindakan putus asa'

Kanselir Jerman Olaf Scholz menyebut rencana mobilisasi pasukan parsial Putin sebagai "tindakan putus asa" yang akan membuat "semuanya jauh lebih buruk."

"Rusia tidak bisa memenangkan perang kriminal ini," kata Scholz di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

Scholz mengatakan bahwa Putin telah "benar-benar meremehkan" situasi di Ukraina sejak awal, mengacu pada "perlawanan dan keinginan Ukraina untuk berjuang" serta "persatuan dan tekad" dari warga Ukraina itu sendiri.

Podolyak: Pidato Putin 'dapat diprediksi'

Mykhailo Podolyak, penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pidato Putin adalah "daya tarik yang benar-benar dapat diprediksi, yang lebih terlihat seperti upaya untuk membenarkan kegagalan mereka sendiri."

"Perang jelas tidak berjalan sesuai dengan skenario Rusia dan karena itu mengharuskan Putin membuat keputusan yang sangat tidak populer untuk memobilisasi serta membatasi hak-hak rakyatnya," kata Podolyak.

Zelenskyy mengatakan kepada media Jerman, Bild, bahwa dia tidak percaya ancaman Putin tentang adanya potensi penggunaan senjata nuklir.

Sehubungan dengan mobilisasi pasukan militer cadangan Rusia, Zelenskyy mengatakan Moskow telah mengerahkan "pasukannya" di Kyiv, tetapi "tidak dapat bertarung" dan telah gugur di medan perang. Presiden Ukraina juga mengatakan bahwa Putin "ingin menenggelamkan Ukraina dengan lautan darah, tetapi juga dengan darah tentaranya sendiri."

kp/ha (AFP, AP, Reuters)