1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiEropa

Prancis Rencanakan Label Perlindungan Iklim di Produk Fesyen

22 Juli 2022

Isu perlindungan lingkungan dan perlindungan iklim makin penting untuk dunia mode dan garmen. Makin banyak konsumen di Eropa mengincar produk ramah lingkungan.

https://p.dw.com/p/4EVxZ
Peragaan busana di Paris
Peragaan busana di ParisFoto: Francois Mori/AP/dpa/picture alliance

Apa yang lebih baik baik bagi lingkungan, membeli pakaian bahan baru atau pakaian bahan daur ulang? Tentu saja bahan daur ulang bermanfaat bagi lingkungan, tetapi tidak selalu mutlak begitu. Karena proses daur ulang bisa memperpendek serat kapas, sehingga biasanya harus dicampur dengan berbagai bahan lain yang justru tidak ramah lingkungan dan buruk bagi perlindungan iklim.

Proses semacam itu membuat sulit untuk mengetahui bagaimana sebenarnya faktor ramah lingkungan sebuah pakaian. Padahal konsumen di Eropa saat ini mulai mengincar produk-produk yang mendukung perlindungan iklim.

Dunia mode di Prancis dan pemerintah sekarang bereaksi. Setiap pakaian yang dijual di Prancis, mulai tahun depan harus menyematkan label yang merinci dampak iklimnya. Aturan serupa diharapkan bisa diberlakukan di seluruh Uni Eropa pada 2026.

Data yang akan menentukan peringkat perlindungan iklimnya antara lain, bagaimana bahan mentahnya, misalnya pohon kapasnya dibudidayakan, bahan-bahan apa yang digunakan untuk mewarnainya, dan seberapa jauh perjalanan yang ditempuh produk dari pabrik sampai di tempat penjualan.

Badan Transisi Ekologis Prancis Ademe saat ini sedang menguji 11 proposal tentang cara mengumpulkan dan membandingkan data dan seperti apa label yang dihasilkan bagi konsumen. "Pesan undang-undangnya jelas, itu akan menjadi hal wajib, sehingga rumah mode perlu mempersiapkan diri dan membuat data-data produk mereka bisa dilacak, untuk mengatur pengumpulan data secara otomatis,” kata Erwan Autret, salah satu koordinator di Ademe kepada kantor berita AFP.

Peragaan busana di Paris
Peragaan busana di ParisFoto: Violeta Santos Moura/REUTERS

Transparan dan terinformasi

Dunia mode dan garmen memang sedang didesak untuk melakukan perubahan. Hingga saat ini data-data dan statistik sangat sulit untuk diverifikasi, padahal PBB menyatakan industri ini bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon global, serta sebagian besar konsumsi air dan produksi limbah.

Label yang direncanakan, dapat menjadi bagian penting dari solusi, kata Victoire Satto dari The Good Goods, sebuah agensi yang berfokus pada mode berkelanjutan. "Ini akan memaksa merek-merek terkenal untuk lebih transparan dan terinformasi... untuk mengumpulkan data dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan pemasok mereka, semua hal yang tidak biasanya mereka lakukan."

Tetapi karena kecenderungan konsumen mencari produk ramah lingkungan meningkat, industri tekstil sekarang juga sedang berlomba mencari solusi teknis. Konferensi tekstil Premiere Vision di Paris misalnya sekarang menyoroti berbagai proses baru, termasuk penyamakan kulit yang tidak beracun dan pewarna yang diambil dari buah-buahan dan limbah.

"Tetapi kunci keberlanjutan adalah menggunakan kain yang tepat untuk pakaian yang tepat", kata Ariane Bigot, wakil kepala mode Premiere Vision. Itu berarti kain sintetis dan berbahan dasar minyak masih akan mendapat tempat, katanya. "Bahan sintetis yang kuat dengan masa pakai yang sangat lama mungkin tepat untuk beberapa kegunaan, seperti pakaian luar yang hanya perlu sedikit dicuci."

Opsi berkelanjutan

Memuat semua ini dalam satu label sederhana yang bisa disematkan pada pakaian, memang tidak mudah. "Ini sangat rumit, tapi kita harus memulainya," kata Ariane Bigot.

Badan Transisi Ekologi Ademe akan menyusun hasil fase pengujiannya pada musim semi mendatang, sebelum menyerahkan hasilnya kepada anggota parlemen. Banyak pihak menyambut baik penerapan label tersebut, namun para aktivis perlindungan iklim mengatakan, masih perlu tindakan yang lebih tegas dan lebih luas lagi.

"Fokusnya harus pada penetapan aturan yang jelas tentang desain produk untuk melarang produk terburuk dari pasar, melarang penghancuran barang yang dikembalikan dan tidak terjual, dan menetapkan batas produksi," kata Valeria Botta dari Koalisi Lingkungan untuk Standar kepada AFP. "Konsumen tidak harus bersusah-payah untuk menemukan opsi yang berkelanjutan - itu harus menjadi standar," ujarnya.

hp/as (ap)